Jakarta,newsskri.com
Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komarudin, menegaskan bahwa semangat takbiran seharusnya tidak diukur dari hiruk-pikuk jalanan, melainkan dari kekhusyukan ibadah di lingkungan masing-masing.
“Momentum takbiran bisa difokuskan di masjid atau mushola, Kami mengajak masyarakat merayakan dengan cara yang lebih aman tanpa konvoi,” ujarnya di Jakarta, Jumat (20/3/2026).
Menurutnya, konvoi kendaraan bukan hanya berpotensi memicu kemacetan parah, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan serta gangguan keamanan, Oleh karena itu pendekatan yang diambil tidak semata represif, melainkan preventif dan persuasif.
Dalam pengamanan malam takbiran, aparat gabungan dari Polri, TNI, hingga instansi terkait akan disiagakan di sejumlah titik vital, Kawasan protokol seperti Jalan Jenderal Sudirman hingga MH Thamrin menjadi fokus utama, dengan penempatan ratusan personel untuk mengantisipasi lonjakan aktivitas warga.
Perhatian khusus juga diberikan pada gelaran bertajuk “Jakarta Bedug Kolosal Malam Idul Fitri 1447 Hijriah”, yang diprediksi menyedot antusiasme besar masyarakat, Selain itu Pawai Obor Malam Takbiran akan memeriahkan suasana dengan rute dari kawasan Monas menuju Bundaran HI.
Sebagai bagian dari rekayasa situasi, kebijakan Car Free Night diberlakukan di sepanjang Sudirman–Thamrin mulai pukul 20.00 hingga 22.00 WIB, Kebijakan ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk merayakan takbiran secara terpusat tanpa gangguan kendaraan bermotor, sekaligus menciptakan atmosfer yang lebih humanis di jantung kota.
Di tengah kebijakan tersebut, respons masyarakat terbelah, Sebagian besar menyambut positif karena dinilai mampu mengurangi potensi kemacetan dan insiden tahunan.
Namun, ada pula yang berharap tradisi takbiran keliling tetap dapat difasilitasi dengan pengaturan yang lebih tertib dan terorganisir.
Dengan kombinasi pengamanan ketat, rekayasa lalu lintas, serta pendekatan humanis, aparat berharap malam takbiran tahun ini menjadi simbol harmoni—bukan hanya bebas dari kemacetan, tetapi juga sarat makna spiritual.
Idulfitri pun diharapkan hadir bukan sekadar perayaan, melainkan refleksi bersama—bahwa kemenangan sejati tidak selalu dirayakan dengan kebisingan, melainkan dengan ketenangan yang menyatukan.( Shofie ).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar